TERONG DAN STATUS

Jika menikah bukan lagi kebutuhan tapi tuntutan (umur dan lingkungan sosial) maka harapan-harapan di masa depan seolah sirna dan kehilangan esensinya, yg ada hanya 1 : status. Sementara pengorbanan untuk membeli status menjadi Nyonya A belum tentu terbayarkan oleh pernikahan itu sendiri. Lantas apa mereka (lingkungan sosial) mau peduli atas pernikahan kita setelahnya? begitu naif hanya karena omongan mereka maka hidup tidak jelas lagi kemana rimbanya, yg penting nikah, yg penting nutup mulut mereka, yg penting kuping gak panas denger mereka bicara. Peduli setan dengan mereka. Toh mulut mereka tidak akn berhenti berbicara apapun yg terjadi dg kita. Bahagia salah, susah lebih salah lagi dimata mereka. Apakah hidup kita untuk mereka?? tentu tidak.
Lihat bagaimana anak mereka menikah, pernikahan tanpa planning, punya anak banyak tanpa dukungan finansial, akhirnya gali lobang tutup lobang. Nyusahin orang tua juga akhirnya. Bukankan aku lebih bahagia dari mereka yg kata mereka aku ini sangat kasihan?? itulah realita kehidupan sosial di negara ini, ketika tuntutan hidup bukan lagi berdasar atas kebutuhan diri sendiri tapi desakan sosial. Mereka-mereka itulah sepantasnya hidup di hutan bersosialisasi dg binatang. Menjadi lucu ketika mereka merasa lebih tau dari pada aku yg akan menjalani. Menjadi naif ketika mereka memaksakan secara tidak langsung seseorang akan tujuan masa depannya. Ini Gila, cuma 2 pilihannya, kalau tidak kuat maka aku yg gila, atau kuatkan diriku sendiri karena mereka sudah gila sejak lahir. Hahahahaha

Beruntunglah aku orang yg bebal atas omongan-omongan orang, karena bagiku 1, mereka sudah kalah telak sejak aku dilahirkan ke dunia, bukan sombong tapi fakta membuktikan, mereka yg begitu amat mudah memojokkan aku, sesungguhnya merekalah yg merasa terusik dg kehadiran diriku, sementara aku-nya nyantai aja. Bagiku orang lain itu bagai buih di lautan, semakin banyak mereka bermunculan di permukaan, maka hidupnya tidak lebih hanya sebatas buih, apalah arti buih? sementara sahabat, yg tidak serta merta mengarahkan hidup kita ke suatu titik entah itu pernikahan, karir, apapun, pasti jelas dg dalil yg bisa dipertanggung jawabkan yaitu untuk kebahagiaan kita, merekalah mutiara yg terpendam dilautan, mendapatkan merekapun amatlah susah.

Amat sangat najis bagiku mendengar apa yang orang lain katakan, teutama mereka yang tidak punya kontribusi apa-apa dalam hidupku. Amat sangat haram bagiku mengambil keputusan dalam hidup atas masukan mereka yang tidak berkontribusi apapun dalam hidupku. Iya, haram hukumnya. Maka aku akan sangat tertawa terbahak-bahak ketika mereka dg gayanya yang gerilya (terselubung) memaksa aku ke suatu titik sesuai pola pikirnya? Dia gila atau aku yg gila? Hey ini hidupku, urus saja hidupmu sendiri, lihat cucu-cucumu yang lahir bodoh karena kurang suply susu yang anakmu kawin karena udah kebelet nikah atau juga nurutin omongan masyarakat, sementara anakmu itusecara finansial belom mapan.

“Anak saya nikah dengan Kepala sebuah Bank Pemerintah, dia bahagia, tidak kekurangan apapun” itu dalihmu. Hey bapak tua, benarkah anakmu bahagia?? Kalau begitu aku senang mendengarnya karena artinya jika orang bahagia dia tidak akan mengganggu ketentraman orang lain, betul kan? Tapi kenapa ya, setiap bertemu aku, anakmu itu masih saja memicingkan matanya, menakikkan sedikit bibirnya, padahal dia sekarang punya lebih dari aku, anak, suami pejabat, harta? kok masih gak bisa menyunggingkan senyum meski sedikit ke aku? Rupanya dia lupa bahagia itu apa? itu menandakan hatinya masih tidak jauh lebih bahagia dari aku. Hahahaaaa…. makan tuh pernikahan yg dijodohkan dengan orangtuamu. Bolehlah kamu punya suami pejabat, semetara aku siapa??? tapi bukankan aku lebih bahagia dari kamu? hingga senyum aku pun dibalas dg bibir sedikit nyerong, hatimu masih mengatakan aku jauh lebih bahagia dari kamu. Makannya gak akan ada kepuasan kalau tujuan hidupmu akibat aturan orang lain. Okelah kamu nurut karena aturan orangtuamu. itu bagus. Tapi orang tuamu itu ngambil keputusan nikahin kamu karena desakan sosial masyarakat sini yg merasa lebih jago. Saya harus nikahin anak saya secepatnya dengan pejabat ini karena akan dipandang oleh masyarakat. Harus cepat-cepat dinikahkan karena omongan masyarakat udah gak enak, sering gonta ganti pasangan tapi belum nikah juga. Makan tuh masyarakat jahiliyah. Hahahaha

Kalau mau dengerin omongan masyarakat, disaring dong, orang yg intelek gak akan serta merta ngatur hidup orang lain. Ngoceh sana sini gak karuan seolah paling tau hidupnya orang lain. Ahhhhhhh… Haram bagi gw denger pendapat mereka. Ente bahlul hahahahahaha

Sayangnya momy… dirimu lemah, mau saja digilas oleh omongan-omongan mereka yg tidak bertanggung jawab. Gak sanggup tutup mata tutup telinga. Kemakan omongan mereka juga, sehingga desakan menikah terhadapku bukan lagi atas dasar kebahagiaanku tapi untuk menutup omongan miring mereka. Duh Gusti. Mengapa mereka lebih tau dari aku? Kalau aku mau asal nikah aja sudah dari dulu mungkin. Tapi menikah itu tidak mudah. Kita bukan cuma cari terong untuk menghadirkan seorang bayi. Maaf ya rada ceplas ceplos ngomongnya. Kta bukan cuma cari otak tumpul untuk menjadi imam kita dunia akhirat. Kita bukan cuma cari status. Nyari keturunan mah tinggal ngejablay aja satu malam, pilih yg ganteng rupaya biar anak ikutan ganteng. kalau nyari yg bisa nafkahin secara materi mah jadi simpenan pejabat aja. Kalau nyari status sebagai nyonya, banyak kok yg bersedia kawin kontrak atau legal tapi ntar cari duit sendiri, mereka yang momong baby. Istri sampe jadi TKW, hampir diperkosa, eh uang kiriman dari istri dipake buat “tidurin” cewek lain. Banyak kalau mau cari laki-laki yang begitu, Tapi kita mau cari imam, bukan sekedar punya terong atau layak secara finansial. Lebih dari itu. Dialah yg nantinya akan mendukung setiap tujuan hidup kita jika dirasanya itu baik untuk kita dan dialah pula yang akan membenarkan kita disaat seluruh dunia menyalahkan kita, dialah yang nantinya rela hidup dengan kita setelah cantik kita hilang, tubuh kita melar, rambut sudah putih. Dialah yang nantinya di tanya sama yg Kuasa kenapa kita begini begitu.
So… mau cari terong mah gampang. Mau cari yg berduit mah gampang. Yang susah adalah imam, maka begitu naifnya ketika berondongan tekanan sosial memaksa kita menikah akhirnya hanya cari terong dan status. Najis.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

FENOMENA “BULE”

Gw termasuk cewek yang hobby nonton gosip artis, urusan dosa entar aja dah, hahaha sarap ya gw. Maksud gw ngikutin berita artis itu hiburan tersendiri buat gw. Mereka itu kadang konyol, kadang innocent, kadang begitulah,,, mereka hadir di jagad raya ini cuma buat ngehibur, nah termasuk kehadirannya di gosip artis, cuma buat hiburan juga kalau menurut gw.

Baru semalem gw update info NIKITA MIEZARNI, Ni..kita mie ayam, ni kamu mie apa??? siapa sih NIKITA MIEZARNI?? temennya mie ayam, mie rebus dan sebangsa mie lainnya. Kabarnya dia dipersunting (inget loh bukan dipersinting) oleh bule. Nonton di youtube malah asikan baca comment2nya, ternyata suaminya itu asli Iraq apa Iran ya? gw lupa. Ada yang bilang “Yaaaaahhh ternyata bule Iraq, miskin dong”. Hahahaha kebangetan lu bilang orang Iraq miskin, mereka punya minyak tauuu.

Gw sempet ngakak pas tau si doi asalnya dari Irak/Iran. Kenapa dipanggil bule??? Padahal mukanya udah kaya bule banget loh. European gitu. Hidung mancung, kulit putih, badan tinggi gede. Salah gak sih kalau doi kita panggil bule?

Merujuk ke definisi bahasa Indonesia, bule itu dirujuk dari kata bulai. Bulai bukannya makanan ya? Itu mah Gulai? iiiihhh aku di Bulai waktu sekolah. Itu mah Bully. Ayo kita ke Bulai Penelitian, eeehhh itu Balai. Ah dasar lo anak Bulai cemungud eaaaa… eh itu sih Alay. Udah.. udah.. serius dikit dong.

Bulai itu artinya orang punya kelainan kulit akibat kekurangan pigmen atau istilahnya albino. Namun seiring perjalanan waktu maka definisi bulai mengalami pergeseran makna. Orang Indonesia tidak lagi bermaksud memanggil orang kulit putih dengan maksud dia albino tapi maknanya menjadi general yaitu orang kulit putih (lebih terang dari kulit orang Indonesia). Jangan heran jika sebagian Ekspatriat (orang asing yg tinggal di Indonesia) mengganggap orang Indonesia itu rasis. Sebagian mereka akan merasa tersinggung bahkan terhina kalau kita panggil dia dengan kata bule karena dianggap melecehkan sebagai orang yg albino.

Padahal saya yakin seyakin yakinnya orang Indonesia tau bule itu adalah sebutan untuk orang asing berkulit putih yang kulitnya lebih terang dari orang Indonesia. Namun makin kesini makin bergeser artinya, semua orang asing dipanggi bule, sehingga orang Arab yang kulitnya putih pun dipanggil bule. Orang Jepang dan China yang kulitnya putih juga dipanggil bule, padahal panggilan bule sebenarnya mengarah kepada orang kulit putih yang umumnya berasal dari Eropa (caucasoid).

Buat saya pribadi lucu aja kalau ada orang Pakistan berkulit putih atau Iraq, Iran dan di luar bangsa Eropa dipanggil bule, saya akan dengan tegas mengatakan mereka bukan bule, karena paradigma yang sudah tertanam di otak saya bahwa bule itu hanya orang berkulit putih yang umumnya dari Eropa bukan China, Jepang apalagi Arab dan Pakistan.

Jadi kita jangan kaget kalau ada orang Eropa marah dipanggil bule, karena paradigma mereka bule itu adalah orang albino, dan mengatakan terang-terangan bahwa mereka bule (baca : albino) itu adalah tindakan tidak sopan dan sangat rasis (menurut sebagian mereka).

Namun ada juga bule yang bangga dipanggil bule. Mereka bangga aja karena tau orang Indonesia memanggil bule bagi mereka yang kulitnya berwarna putih terang, dan mereka bangga dibilang orang putih berkulit terang (bule). Beberapa kali saya mendapati kebanggaan mereka di panggil bule yang tercermin dari profile mereka di sebuah situs dating online. Sebut saja Matt, dia menulis di head profilenya Bule Australia cari cewek Indonesia. Atau John yang menulissaya bule miskin” atau Andrew  menulis “Bule ganteng looking for love“. Para bule yang sudah lama tinggal di Indonesia akan berbesar hati dipanggil bule, mereka mengerti orang Indonesia tidak bermaksud rasis atau mengatai mereka albino, sebut saja namanya Thomas mengatakan “Jangan khawatir di panggil “bule kampung” tidak perlu marah, tapi jika dipanggil “bule kepet” itu hal lain” hahahaha bule kepet, apaan tuh artinya???

Sama hal-nya dengan panggilan Mister bagi pria berdarah asing. Kebanyakan orang Indonesia akan memanggil sebutan “Mister” kepada laki-laki berkebangsaan asing. Baru tadi malam seseorang dari German menanyakan ini kepada saya, “Mengapa kebanyakan orang Indonesia memanggil saya Mister? padahal sekalipun ke Boss saya tidak pernah memanggilnya Mister, kami disini menggunakan panggilan Mister hanya untuk colega bisnis yang sangat di hormati atau berkedudukan tinggi dan umumnya dari luar negara kami”. Saya hanya tertawa mendengar pertanyaan itu. Saya jelaskan pada dia bahwa kebanyakan  orang Indonesia akan memanggil Mister kepada semua laki-laki asing, entah itu dari India, Afrika atau Eropa. Bahkan gila-nya lagi bagi mereka yang tidak mengerti akan memanggil wanita asing dengan sebutan Mister juga hahahahahahaahahha, jungkir balik sambil nungging.

Juga sama hal-nya ketika saya mengatakan Negro untuk orang Afrika berkulit gelap. Seorang teman saya yang kebetulan berkebangsaan asing menegur saya karena kata “Negro” amat tidak sopan disebutkan. Mereka (Orang Afrika) akan sangat marah bila dipanggil Negro. Padahal yang kita tau disini (Indonesia) biasa menyebutkan negro bagi orang berkulit hitam tanpa maksdu mengejek atau rasis. Orang Indonesia terbiasa sekali rupanya memanggil sesuatu yang terlihat secara fisiknya. Misalnya, “Eh aku beli ini dari si China yang matanya sipit itu” sehingga orang bermata sipit (meski bukan China) akan dipanggil China.

Jadi intinya tidak ada yang salah dengan panggilan bule untuk orang-orang berkulit putih terang. Sama sekali tidak bermaksud menghina atau mengatakan albino. Namun menurut saya kata bule itu sendiri tidak tepat di sematkan kepada orang Arab, Pakistan, atau di luar bangsa Eropa, karena bule ini khusus untuk mereka yang berasal dari ras Caucasoid yang umumnya berciri-ciri : berkulit putih terang, hidung mancung, berbadan tinggi yang umumnya orang Eropa, karena istilah Caucasoid ini sendiri diambil dari nama Pegunungan Kaukasus di pinggiran tenggara Eropa antara Laut Hitam dan Kaspia. Wilayah ini pernah dianggap sebagai tanah air Indo-Eropa. So aneh aja menurut saya kalau ada orang Iran, Iraq, Pakistan, Arab, Jepang apalagi China dipanggil bule hanya karena kulit mereka yang terang.

Seorang Pakistan yang saya kenal di kampus begitu bangga mengaku dirinya bule, langsung saja saya bilang “Kamu bukan bule, bule itu untuk orang Eropa yang umumnya badannya tinggi, kamu kan pendek” Lohh??? ini sih penghinaan hahahahaha. Ampuuuuunnn DJ!!!! OK deh apapun itu yang jelas kita sudah tau arti kata bule asalnya dari bulai yang dalam kamus basa Indonesia itu adalah albino, tapi pastinya dong kita gak maksud ke sana kan????

Categories: Uncategorized | Leave a comment

NAKSIR DOSEN

Pernah gak semasa sekolah atau kuliah naksir sama guru atau dosen sendiri? atau simpatik karena cara ngajarnya enak, atau ganteng/cantik, Gw yakin diantara lo semua pasti pernah tuh naksir sama guru/dosen sendiri, kalau guru tetangga kayanya belom tentu kenal. Kalau gw sih seinget gw selama SD, SMP, SMA gak ada deh guru yg gw taksir. Menginjak duduk di bangku kuliah baru deh tuh ada dosen yg gw taksir.

Namanya Pak Warsito, beliau dosen atau assistant dosen ya? gw lupa, yg gw inget dia asisten Pendidikan Agama Islam (PAI) dan megang matakuliah Dasar-dasar Management (kalau gak salah). Orangnya biasa aja, kalau fisik 1-10, dia 6 deh, postur tubuh gak termasuk tinggi, orang Jawa, kalau ngomong/menjelaskan materi bicaranya slow banget, jarang senyum, tapi sekalinya senyum manis banget, dan yg paling khas dari beliau ini adalah (maaf) kaca mata pantat botol, gw istilahkan begitu soalnya kacamatanya selain modelnya jadul (bulet aja bentuknya), juga tebal seperti pantat botol.

Kok bisa gw naksir dia? Kharisma, karena itu. Beliau beda dari yg lain. Setiap mata kuliahnya kita diharuskan duduk terpisah antara laki-laki dan perempuan (udah kaya di madrasah). Orangnya kalem banget, gak pernah marah sama mahasiswa (seinget gw). Awalnya itu deh yg bikin gw suka sama dia, wih ini dosen cihuy banget, cewek-cowok duduknya disuruh di pisah.

Setiap pelajaran beliau gw jadi tertarik, merhatiin terus dia, sayang jarang senyum, tampang serius banget, tapi sekalinya senyum, wiiiihhh manis banget. Entah sekarang beliau masih ngajar di IPB atau udah engga. Kali aja nih beliau baca tulisan gw ini, gw cuma mau bilang “Pak… saya dulu sering banget loh merhatiin bapak kalau lagi nerangin, meskipun gak ngerti kadang-kadang sama yg bapak terangin, haha, tapi saya naksir berat sama bapak, saya masih suka keliaran di kampus pak, kalau mau ketemuan boleh kok, di kantin Sapta aja ya Pak, hahah”

Dosen lainnya yg sempet gw taksir atau favoritin banget itu namanya Pak aduh gw lupa, kok bisa ya? tapi di kepala gw jalas banget senyumnya, orang Jawa juga, yg ini sering senyum, ramah, dan suka bikin ketawa. Bentar… gw inget2 lagi namanya. Beliau ini salah satu tim Ahlinya Pak Beye. Hummm…. siapa ya??? apalah arti sebuah nama, bagi gw wajah, suara, senyumnya udah pasti melekat di otak gw (ngeles). Aduh payah banget gw, padahal baru kemarin. OOohhhhh Mas Har eeehhh Pak Harianto (bener gak tulisannya?). Yang ini sumpah bikin jantung mau copot, tiap kali dia melempar senyum berasa hati gw ketinggalan di bulan sementara otak gw di pluto, sesaat gw cuma bisa bengong. Itu senyum manis banget sih.

Sebetulnya bukan senyumnya yg bikin gw naksir berat beliau. Kharisma, lagi-lagi itu awalnya. Gw inget banget nih gaya beliau ngajar. Pertama kali ngisi kelas, beliau datang lenggang kangkung (kagak bawa apa2, tas, laptop, buku2 seperti umumnya dosen), beliau cuma bawa otak sama pulpen aja dikantongnya. Itu otaknya ngelebihin CPU komputer. Kalau nerangin semunya mulus keluar dari mulutnya yg terorganisir sama otaknya. Canggih banget deh. Emang suka nulis di white board? jarang banget. Tapi sekalinya nulis, yg ditulis rumus ribet yg orang kaya gw dijamin seumur hidup gak akan bisa nulis rumus itu tanpa liat buku.

Cara ngajarnya juga simple, beliau paling sering ngomong “ngak usah mikir yg ribet-ribet, yg mudah2 saja“. Satu hal yg gw inget banget dari beliau itu adalah kisah hidupnya semasa kuliah dulu. Gw ceritain ya. Beliau ini lahir dari keluarga yg biasa saja, sama seperti gw, tapi karena tekad yg kuat, beliau kuliah di IPB, saat itu kost di daerah Cisarua, sementara kampus di Darmaga, jauh gila kan? 4 kali naik angkot kalau sekarang. Untuk dateng kuliah ke kampus maka ada biaya yang dikeluarkan, anggap saja 2ribu untuk ongkos pulang dan pergi. Beliau akan menimbang-nimbang, apakah kuliah hari ini penting untuk dihadiri atau tidak, jika penting maka beliau akan datang (masuk kuliah), artinya jatah 2ribu (1 kali makan misalnya) harus hilang karena dipakai ongkos. Jika materi kuliah hari ini dirasa cukup dipelajari di rumah (gak usah ke kampus) maka beliau gak masuk kuliah, dan artinya jatah makannya gak hilang. Karena di masa-nya dulu kehadiran tidak menjadi soal, Termasuk rambut mau panjang juga gak apa-apa, baju mau pake kaos oblong juga gak apa-apa, atau pakai sendal juga gak apa-apa, yang penting ujian lulus.

Dari situ gw mikir, bapak ini prihatin ya, tapi justru yg seperti ini bisa sukses, salut deh, udah gitu pinter lagi. Orangnya rendah hati banget, percis pribahasa padi kalau makin berisi makin merunduk, beliau biar banyak ilmu tapi rendah hati. Low profile, down to earth kalau kata Syahrini. Kalau udah ketawa senyumnya manis banget. Setiap akhir penjalasan beliau selalu bilang “ya, jadi begitu…

Ya, jadi begitu penjelasan gw tentang dosen-dosen yang gw taksir dulu. Di akhir pertemuan kuliah dengan Mas Har eh Pak Har, ada teman yg mengusulkan beliau foto bareng dengan anak-anak sekelas, beliau tidak keberatan. Dan lo tau guys, gw udah ancang-ancang pokoknya ambil posisi disebelahnya, kalau kepercayaan orang kampung di pengajian duduk itu sebelah Ustad, biar kecipratan berkahnya, ketularan ilmunya. Berhubung kalau kuliah beliau berdiri di depan dan kita duduk menghadap beliau, jadi gak bisa lah deket-deket, nah moment foto bareng ini gak boleh terlewatkan, kalau Selena Gomez sempet bikin geger dengan kicauannya “Be jealous bitch” karena dia berhasil macarin cowok populer yg digandrungi para wanita sejagad raya (tentunya tidak termasuk gw), maka kali ini gw cuma mau bilang “be jealous cewek-cewek” hahaha, gw upload nih sekalian fotonya, biar tambah ngiriiiiii hahaha

Gambar

Categories: Uncategorized | Leave a comment

CINTA GAK PERNAH SALAH!!

GambarGw sangat percaya, bahwa pertemuan kita dengan seseorang bukanlah suatu kebetulan melainkan udah ditentukan sama Allah. Dan segala sesuatu yg terjadi di dunia ini gak ada sesuatu yg kebetulan, semua udah atas dasar skenarionya Allah. Maka gw akan sangat menjadi jengah manakala mamah berkomentar mengenai kedekatan gw dengan beberapa orang di masalalu, seperti ini :

“sari kamu ketemu orang yg salah”

“sari kamu mencintai orang yg salah”

“sari kamu salah menghabiskan waktu dengan orang yg salah”

Yg sampai sekarang mamah selalu bahas adalah kedekatan gw dengan orang yg hampir 5 tahun macarin gw (2 tahun bersama, 3 tahun longdistance) tapi pergi gitu aja ninggalin gw. Padahal gw udah bisa move on, padahal setelahnya gw udah mencintai beberapa cowok, tapi mamah masih aja ngungkit dia. Padahal dia sama sekali udah gak berarti dimata gw dibandingin sama mantan-mantan gw setelahnya.

“Kalau kamu gak terlalu lama ngabisin waktu pacaran sama dia, pasti kamu udah nikah sekarang” kata mamah. Toh nyatanya setelah dia gw pacaran lebih dari 4 cowok dan semuanya gagal. Artinya bukan karena dulu gw terlalu lama pacaran sama dia sampai akhirnya gw belum nikah sampai sekarang, artinya memang gw belum menemukan yg cocok.

Katakanlah namanya Jaja, dia pernah mengisi hari-hari gw, dia baik, dia banyak bantu gw, dia ada dikala yg lain gak ada. Jeleknya dia hanya pendidikan dirasa kurang cukup bagi mamah, tapi bagi gw gak masalah, keluarganya gak jelas, bahkan gw gak pernah dikenalkan ke keluarganya meski 2 tahun pacaran. Gw bisa terima, mungkin belum siap. Kok gak mau nikahin ?? malah pergi gitu aja? Oh aku malah beruntung akhirnya kita gak menikah, setelah gw menemukan banyak pria yg jauh lebih baik dari dia, maka penyesalan ditinggalkan oleh dia itu gak pernah ada. Pun menyesal karena telah mencintai dia dan berakhir sia-sia gak ada di benak gw. Jujur gw pernah sayang sama dia, jadi gak ada yg sia-sia dalam menyayangi orang lain. Apa yg kita beri, nanti itu yg kita dapat, gw ngasih dia kasih sayang tulus, toh gw dapet balesannya dari orang lain. Tapi masa iya sih Sar, kamu gak sakit hati ditinggal Jaja? Iya pernah sakit hati, itu manusiawi banget, tapi yg namanya sakit kan kalau ada obatnya pasti sembuh atas seijin Allah. Luka itu udah sembuh, bahkan hidup gw jauh lebih baik setelahnya, lantas kenapa harus mengungkit luka lama yg bekasnya aja udah gak kelihatan. Kalau misalnya gw ketemu Jaja lagi sekarang, mungkin 1 hal aja yg akan gw tanya ke diri gw, sambil ketawa tentunya “Kok bisa ya gw dulu cinta mati sama model beginian? Aduh jalan sama dia aja malu, berasa jalan sama tukang parkir”

Beneran itu yg sampai sekarang bikin gw ngakak sendiri, ya ampun sari, dulu sampai nangis2, berantem sama orang tua, cuba belain orang dg model tukang parkir, maaf ya di asumsikan begitu, kenapa tukang parkir? Karena hitam kejemur matahari, terus mukanya agak dekil karena debu jalanan, bajunya juga lusuh. Jadi pas lah menggambarkan sosok Jaja. Hahaha

Masa itu masa yg cukup lama sampai akhirnya gw bisa move on, setelah gw kerja, sibuk sama aktivitas pekerjaan, ketemu orang-orang baru, saat itulah gw bisa melupakan Jaja. Apalagi gw mulai jatuh cinta sama manager gw. Cinta yg ini juga gak salah. Gw cinta sama dia karena perhatian dia, lucunya dia, manisnya dia, dan dia yg akhirnya menghapus nama Jaja dari hati gw. Apa salah jika gw cinta dia? Yg salah itu gw, bukan cintanya, salahnya gw, udah tau dia non muslim, masih aja dilakonin, udah tau dia >>>> ini sensor ya, masih aja gw jalan sama dia. Sampai akhirnya gw ngerasain patah hati ke dua kalinya saat akhirnya hubungan harus usai. Disitu gw terombang-ambing lagi, rasa putus sama si manager ini lebih nyakitin dari putus sama Jaja, kok bisa? Kan Cuma 3 bulan pacaran? Gak tau ya kenapa? Soalnya hadirnya dia aja bisa menghapus nama Jaja.

GambarSampai akhirnya gw pindah kerja, dan gw jatuh cinta sama temennya temen gw. Entah cinta karena sayang ataukah cinta karena gw menemukan figur seorang ayah yg gak sempurna gw dapat. Katakanlah namanya Jaya (beda sama Jaja ya). Jaya ini bahkan umurnya lebih tua 1 tahun diatas mamah gw. Kok bisa gw jatuh cinta sama dia? Bisa lah, dia baik, kebapaan, dan karena dia, nama manager itu bisa terhapus dari hati dan pikiran gw. Tapi lagi, bukan cinta gw yg salah, melainkan diri gw yg salah, buta, karena tau status dia, tapi pura2 gak liat. Akhirnya gw harus merasakan patah hati yg ke-3 kalinya.

Dimasa itulah gw mulai gak percaya cowok Indonesia. Meskipun bukan cowok Indonesia yg salah melainkan gw yg salah. gw udah tau sekarang, kalau patah hati ya obatnya harus punya pacar baru. Akhirnya gw nyari sedapetnya aja. Teman pun dijadiin pacar juga. Sebut aja namanya Miing. Kita jadian, gak nyangka, padahal kita sahabatan loh dulu-nya. Namun jadian sama dia gak pake hati, gw Cuma butuh tempat pelarian aja. Disaat yg bersamaan, dateng cowok luar dengan wajah mirip artis India, deket sama dia, seru juga, orangnya lucu. Dan kita jadian. Terus pacar gw yg lain itu gimana? Dia udah mutusin gw sebelum gw jadian sama si Pakistan ini. Putus sama temen gw, gw jadian sama si Pakistan ini, tapi sayangnya gak lama Cuma 4 bulan aja. Kita berantem hebat waktu itu. Galau banget. Ini parah, sakit hati gw melampaui semua cowok yg pernah ninggalin gw. Yg pakistan ini ninggalin gw dengan sangat tragis dan sadis. Padahal gw sayang sama dia tulud, air susu dibalas air tuba. Cinta gw ke dia gak salah, yg salah itu dia gak bisa nerima cinta gw, kita berantem terus. Sar… jadi selama pacaran, elo terus yg ditinggalin? Elo yg diputusin. IYA, PUASSS??? Gw selalu di putusin, ditinggalin!! Sekali aja mutusin cowok, cowok pertama gw sebelum sama Jaja. Kenal pas kuliah  tingkat 1, sementara dia udah mau lulus kuliah.

Disaat gw diputusin dengan sangat terhina sama si Pakistan ini, karena gw udah tau obatnya sakit hati ya harus ada yg mengisi hati, akhirnya gw nyari pelarian lagi, serabutan aja. Dapetlah Indonesia lagi. Katakan aja namanya Jejen. Sar… pacar lo semuanya pake hurup “J” depannya? Engga lah, itu nama belakangnya. Jaja misalnya, nama aslinya bisa Sutarja, atau Jaya misalnya, nama aslinya Nurjaya, atau Jejen nama aslinya bisa aja Surejen. Ternyata pelarian gw yg ini gak sukses, karena nyarinya serabutan (asal dapet) gak bisa menghapus nama Pakistan itu dari hati gw, abis Jejen kurang ok dari si pakistan, entah itu nalarnya, gantengnya, tingginya, lucunya. Sama si pakistan gw bisa ngakak seharian, sama Jejen, gw cemberut seharian. Gw gagal move on karena salah milih orang, untungnya karena salah milih orang, jadi gw gak sampai jatuh cinta. Tak lama muncullah cowok ganteng, bukan orang Indonesia melainkan Arab. Cowok inilah yg dituding sebagai salah 1 alasan diputusinnya gw sama si Pakistan itu. Padahal gw sama Arab ini gak kenal sama sekali. Akhirnya untuk memuaskan hati, ya udah gw berfikir, gimana kalau bener gw jadian sama Arab ini seperti yg si Pakistan kira (gw suka dia). Lagi pula si Arab ini lebih ganteng dari si Pakistan, bodynya lebih macho, atletis, dan keliatannya lebih tajir hahaha. Dan kita deket, namun kedekatan kita sebetulnya Cuma mau manasin di Pakistan aja. Gw gak mikir bakal sampai jadian. Kita jalan berdua iya, kita kemana-mana berdua, iya, tapi belum pacaran. Sampai suatu hari si Arab ngelarang gw untuk deket sama cowok lain. Gw bilang kenapa? Dia bilang kita pacaran, karena udah jalan bareng, menurut gw saat itu kita belum pacaran karena dia belum perbah bilang mau gak jadi pacarnya (nembak). Setelah hari itu dia bilang kita pacaran. Ya udah kita resmi pacaran.

Bisa dibilang, perjalanan cinta gw selama ini, yang bener-bener gw ngerasain gw mencintai seseorang setulus hati, ya Cuma sama Arab ini. Kenapa? Terbukti meskipun dia sama seperti yg lain yaitu ninggalin gw, tapi Cuma sama dia gw gak sakit hati, sedih iya, namanya ditinggal pastilah sedih, tapi sakit hati sedikit pun engga, gw bisa pastikan sampai kapanpun gw akan terus sayang sama dia. See… cinta gak pernah salah kan??? Kalau gitu aku bertemu orang yg salah karena dia ninggalin aku? Engga, aku gak pernah salah ketemu orang dan mencintainya. Hadirnya dia sungguh memberi warna tersendiri. Gak dipungkiri dia yg banyak support gw dalam susah maupun senang, begitupun gw terhadap dia. Dia bukan orang yg salah, hanya situasi dan kondisi kita berdua yg tidak memungkinkan. Loh bukannya cinta aja udah cukup untuk mengatasi segala perbedaan, kalau cinta gak bisa mengatasi segala perbedaan, itu artinya salah satu diantara kalian gak mencintai sungguh-sungguh. Mungkin iya, tapi bukan aku pelakunya. Aku sudah memberikan seluruh cinta aku ke dia, mungkin dia yg belum memberikan cinta sepenuhnya untuk aku. See …bukan cinta yg salah, bukan pula mencintai orang yg salah, hanya saja dia belum bisa mencintai aku sepenuh hati. Kalau dia menyangkal dengan mengatakan dia juga mencintai gw sepenuh hati, hanya saja situasi dan kondisi tidak memungkinkan, cinta aja gak cukup untuk kita bisa menikah. Apakah itu benar? Cinta aja udah cukup, kalau dibilang cinta aja gak cukup untuk kita bisa bersatu, maka itu artinya belum cinta 100%, masih ada yg di prioritaskan untuk dicintai lebih. Situasi dan kondisi apapun bisa dikalahkan oleh cinta. Pun larangan ortu untuk bersatu, kalau dasarnya cinta maka apapun penghalang akan dihadapi, kalau orang tua gak bisa dilawan, artinya cinta ke orang tualah yg lebih diprioritaskan lebih daripada aku. Salahkah mencintai orang tua lebih dari aku? Jelas engga lah, harus lebih cinta ke orang tua ketimbang pacar. Kondisi, adat, culture gak bisa membuat kita bersatu, yah itu kan buatan manusia, masa cinta gak bisa mengalahkan buatan manusia? Cinta itu bukan buatan manusia loh, makannya abadi.

GambarSo untuk kasus yg terakhir bukan salah cinta lagi, atau aku salah bertemu orang untuk dicintai, bukan, salahnya aku mencintai dia 100 % tapi dia baru bisa 60 %, makannya gak matching. Tapi gak apa-apa, memberi cinta itu gak pernah sia-sia, kalau dia Cuma bisa kasih 60% cintanya sementara aku udah kasih 100 % cinta aku, maka suatu saat aku akan dapat balasan dicintai seseorang 100 % juga. We never know what will the future bring (tau dah bener apa salah yeh inggrisnya??)

Jadi kesimpulannya gw gak pernah mencintai orang yg salah, atau mencintai yg salah, atau salah mencintai. Jangan mengkambing hitamkan cinta, cinta itu gak pernah salah, kalau kita udah mencintai seseorang ya artinya cinta itu bener, yg salah Cuma dia cinta juga atau engga ke kita???Emang salah dia kalau dia gak cinta kita? Dia gak salah juga sih, hak dia kan mau cinta atau engga. Terus salah siapa dong??? Tanya aja sama rumput yg bergoyang😛

 

Categories: Uncategorized | Leave a comment

The Ninja’ers (NIQAB)

GambarGw kost disini udah setengah tahun lebih. Biasanya gw memilih kost yg 1 rumah tapi banyak kamar2 didalamnya, biar banyak penghuni, banyak temen. Dan pasti gw milih yg sekamar ber dua, selain ngirit, gw orang yg gak bisa sendiri, kalau ada temen sekamar kan bisa ngobrol2 saat kesepian. Namun namanya tinggal 1 rumah ada enaknya ada engganya, enaknya kalau lagi sakit, temen2 yg lain tau, dan langsung bantu, enaknya lagi nonton tv bareng2 di ruang tv, makan bareng2, sampai sholat pun berjamaah, ngerumpi bareng juga pastinya. Gak enaknya, berasa gak punya privacy, kalau orang2 ngumpul di ruang TV dan kita lagi dikamar, berasa banget berisiknya. Nah kalau sekamar berdua, disaat rame2 gitu kan gak enak kalau pintu kamar di kunci, sementara teman sekamar kita masih pengen bolak balik misalnya. Bagus kalau pas lagi sama2 di dalam kamar.

Akhirnya gw mencoba untuk sekamar sendiri. Niatnya cuma ingin punya privacy lebih dan bisa sering tutup pintu. Karena kost yg serumah itulah hampir kita gak punya privacy, saat lagi ngumpul pasti ada aja rasa ingin tau tentang satu sama lain, gw orang yg terbuka banget. Semua pasti tau kalau ada kejadian apa yg menimpa gw, tapi kok ya lama2 gak enak juga segala orang tau. akhirnya dari yg sekamar bedua, gw jadi sekamar sendiri. dari yg seringngerumpi bareng, gw mulai menghindari kumpul-kumpul sedikit demi sedikit sampai praktis gw pulang ke kosan cuma buat tidur doang dan mandi, selebihnya aktivitas gw di luar kosan atau dikamar menutup diri.

Ternyata hidup sendirian seperti itu lebih nyaman buat gw, ge gak lagi ikut2an ngerumpiin orang, biasakan cewek kalau ngumpul ngapain lagi kalau gak ngegosip, kalau gak gosipin artis ya gosipin temen sendiri, atau cowok2 ganteng yg lagi populer di kampus. Gw jadi kurang menyukai hal itu, apalagi kalau terus minar mereka juga “ngulik” tentang kehidupan pribadi gw.

Terserahlah ya mau di bilang gw sombong atau gak mau bergaul, yg jelas karena culture indonesia saking rasa memiliki satu sama lain itu kuat banget, sampai sampai masuk ranah pribadi orang pun dianggap normal-normal saja. Pacarnya siapa sih? eh dia baru putus loh, mendingan tinggalin aja cowok kaya gitu, kok pulangnya malem terus sih? hal2 begitu bagi orang indonesia sangat wajar, tapi gw gak suka aja itu namanya rese. Kalau jaman sekarang namanya kepo.

Dari sekamar sendiri, gw mulai mencari tipe kosan yg bukan rumah, tapi hanya kamar-kamar aja, jadi kalau gak ngumpul bareng di ruang Tv atau sholat berjamaah gak bareng kan gak dibilang sombong. Ternyata gw suka dengan tipe kosan yg hanya kamar-kamar saja, lebih individualistis. keluar kamar langsung pergi tanpa harus basa-basi “semuanya aku pergi dulu ya” atau saat pulang langsung masuk kamar tanpa basa-basi “hi semuanya, lagi nonton apa?”. gw bener-bener berada di zone nyaman saat kost di kosan dengan tipe kamar-kamar saja. Kita gak harus kenal kamar sebelah siapa penghuninya, keluar kamar bukan lagi ruang TV tapi udah langsung bisa liat langit.

dikosan yg sekarang ini pun sama, bahkan lebih enak dari kosan sebelumnya, ini kosan gw banget. Ibu kosannya di depan kamar gw rumahnya, baik banget orangnya, depan kosan langsung jalan raya, ada alfamart buka 24 jam lagi, enak deh. Sebelah kanan dan kiri gw siapa namanya? meneketehe, mana gw tau. Penting gitu??? untuk melanjutkan prinsip hidup yg udah kadung cocok di diri gw, gw gak mau terlalu dekat dengan teman sebelah kamar, bila perlu gak usah saling kenal. Kenapa?? lagi2 pasti dugaannya gw sombong? bukan lah. Kalau sesama cewek udah saling kenal, maka akan timbul rasa ingin tau lebih dalam, ingin memiliki satu satu sama lai, kalau hubungannya baik terus, semua akan aman-aman saja, kalau lagi bersitegang? di bongkar semua aib kita ketemen0temen kosan yg lain. Gak enak kan? jadi prinsip gw, gw gak mau gosipin orang lain, terserah deh orang mau nungging, mau gimana, asal jangan ganggu gw aja.

Kebetulan kosan gw kebanyakan jilbaber semua, dan ninja (cadar). Untuk sesaat gw berfikir, aman, pasti mereka-mereka orang baik-baik, gak suka ngegosipin orang di belakang, ramah dsb. Ternyata gw salah. Ninja juga manusia. Kalau mereka ngumpul, hebohnya lebih dari pada temen2 gw yg notabe-nya jilbab gaul, atau malah kaya gw, cewek ceria (hehe). Mereka kalau ngumpul udah kaya tante2 arisan yg baru dapet berondong. Heboh banget. Percis kaya lagi party, Ngakak keras-keras, ngomong kaya di hutan gak bisa pelan. ketawa rame-rame. Sebatas itu apakah gw merasa terganggu? terganggu iya. Tapi mereka kan ketawa ketiwi di kamarnya, itu zone mereka, jadi gw gak bisa menyalahkan mereka. Sampai disitu gw masih bisa bilang ternyata ninja juga sama. Mereka juga manusia. ketawa mereka bisa lebih gede dari ketawa gw.

Gw masih bisa memaklumi mereka, meski kadang gw heran kok bisa ya tiap hari rame-rame terus, yg punya kamar apa gak merasa terganggu di datangi teman-teman setiap hari yg numpang ngakak. sampe gw bertanya-tanya penghuni kamar itu sebenarnya berapa orang sih? kok tiap hari rame aja, lebih dari 4 orang kadang-kadang. Dikamar sekecil itu apa gak eungap ya? sabodo teuing lah, yang penting gak ganggu gw. Dia enjoy, gw juga enjoy.

Sampai suatu hari, di siang hari bolong, suasana hening, gw juga lagi enak baca-baca artikel di internet, ada suara pintu greeekkkk…greeeeekkkk..ngreeeekkk… rupanya orang depan kamar gw lagi mainin pintu kamarnya di buka, ditutup, dibuka, di tutup. Silahkan aja mau di buka tutup ribuan kali juga, tapi suaranya grak grek nya itu loh ganggu banget. Sampe akhirnya gw teriak, “Apa sih itu? berisik banget” rupanya si pelaku menyadari teriakan gw ditujukan ke dia. eh dia bukannya berhenti mainin pintu, kali ini bunyinya dia percepat jadi grak grek grak grek, cukup lama juga dia begitu. Oh… gw tau tipe orang kaya gini, gak usah dilayanin, cukup diemin aja tuh bener kan setelah itu dia cape sendiri.

Kalau gw dateng sama teman pria gw, pasti yg depan kamar gw itu langsung buka pintu dan mondar-mandir keluar masuk. Pengen tau banget ya siapa yg lagi sama gw? dia bisa ngeliat jelas siapa yg lagi sama gw karena pintu kamar gw buka. Karena biasanya pintu kamar gw selalu tutup kalau gw sendirian, jadi pas pintu kamar gw terbuka, dia tau pasti gw gak sendiri.

Suatu hari gw kerjain aja ini cewek, gw buka pintu kamar gw, terus gw ngomong rada kenceng “iiihhh kamu lucu banget sih, sini sayang mau aku suapin gak?” bener aja dia langsung keluar dari kamarnya dan bolak-balik keluar masuk ngeliatin ke arah kamar gw, Nyariin ya siapa cowok-nya??? sayangnya gw lagi ngomong sama ikan gw, bukan sama cowok gw hahahaha. Sejak saat itu kalau pintu kamar gw buka, dia gak lagi mondar mandir keluar masuk kepengen tau.

Suatu ketika gw mau ke kampus, tiba2 datang penghuni kamar lain yang nyamperin depan kamar gw, oang ini nanya ke orang depan kamar gw

“siapa itu” tanya jilbab x

“gak tau, gak kenal” jawab ninja di depan kamar gw

“nanti ya kita gosip-gosip lagi, aku mau mandi dulu, baru dateng banget” jawab jilbab x.

Mungkin karena hari itu gw lagi PMS, jadi agak sensitive. Oh mau gosipin gw?? emang gw ada salah apa sama kalian? kenal juga engga. Sabodolah, gw langsung capcus ke kampus.

Nah itulah yg gak gw suka dari kehidupan sosial disini, makannya temen2 gw yg bukan asli Indonesia, suka bilang ke gw, ‘orang indonesia ramah2, tapi jeleknya suka ngomongin orang di belakang (gosip ria) dan mau tau urusan orang, kalau kami dinegara kami, ketemu teman di jalan cuma bilang salam atau say Hi aja, kalau disini pasti langsung “hi, mau kemana bro?” emang itu urusan dia apa?, di negara kami nanya seperti itu gak sopan’. yah namanya culture, udah bawaan ada kita kalau ketemu temen di jalan pasti nanya mau kemana meski gak kepengen tau atau masa bodo lo mau kemana, tapi pasti aja nanya mau kemana.

Yah begitulah. Gw sekarang sadar, gak bisa menilai orang dari bungkusnya aja. Bungkus udah rapih rapet tapi mulut atas tetep aja gak ketutup rapet. Mending kaya gw gini gak munafik, biarpun bungkus kebuka tapi males deh ikut campur urusan orang, karena gw gak mau urusan gw di campurin orang juga. Lo jual gw beli istilahnya, lo nyenggol ya gw senggol lagi. Lo diem, ya bagus deh buat gw.

*NB, judul di atas tidak mewakili keseluruhan pengguna niqab. bahwa masih sangat banyak Niqabers yg baik budi pekertinya sesuai dengan kemasannya, cerita di atas hanya menjelaskan oknum saja

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Ke Laut Aje Lo!!!

GambarBeberapa minggu yg lalu, ada cowok yg kirim pesan lewat skype gw, gw pernah ngobrol sama dia beberapa waktu sebelumnya di skype, dan hari itu dia bilang dia mau ke Jakarta. Dia tinggal di Semarang, kuliah di UNDIP. Di Jakarta dia ada urusan di kedutaannya. Setelah urusan di Jakarta beres, dia pun sms gw kalau dia on the way ke Bogor. Ceritanya dia mau ketemu gw. Karena gw sempet ngobrol dengan dia, dan gw liat dia lurus-lurus aja orangnya, jadi gak masalh buat gw untuk ketemuan, meski hari itu sebenarnya gw lagi males banget ketemu orang, semenjak ditinggal Salem, gw ngurung diri aja di kamar, pengen sendirian aja, tapi ada teman mau datang berkunjung, apa salahnya? Gw orangnya gak enakan juga, gak bisa bilang engga. Dan gw pikir mungkin kalau ada teman, gw gak terlalu sedih dan kesepian.

Siang itu gw udah siap2 nunggu dia di stasiun Bogor, gw lupa2 inget mukanya, tapi pasti gampang ngenalin dia karena dia bukan orang Indonesia, jadi dari muka pasti keliatan beda. Bener aja, pas berhamburan orang2 keluar dari kereta, gw liat cowok beda dari yg lain. Dia langsung berjalan ke arah gw, rupanya dia ngenalin gw.

 “hi.. how are u” sapa dia

“fine, thx, how r u? How was ur trip?” jawab gw

Dia bilang dia banyak tanya orang untuk bisa sampai Bogor, terus dia bilang dia laper, ya udah gw ajak dia ke Botani, Katanya dia bisa makan apa aja, gak seperti orang2 asing yg gw kenal sebelumnya, mereka rada susah lidahnya dengan masakan Indonesia, Mereka hanya makan menu2 khusus yg mereka suka aja, kalau yg ini katanya makan apa aja bisa. Bagus deh pikir gw, jadi gw gak usah pusing2 nyariin tempat makan yg cocok buat dia.

Selama dia angkot dia ngajak ngobrol terus, dia bilang seharusnya hari ini dia harus balik lagi ke Semarang untuk ngasih passport temannya yg urgent harus besok diterima, tapi karena udah janji ketemu gw, terlebih kemarin dia sempet ngebatalin mau ketemu gw, jadi dia gak bisa ngebatalin kedua kalinya, akhirnya itu passport dia kirim by JNE dan harus bayar 425 ribu, sampe dia tunjukkin nota-nya. Dia bilang kalau dia pulang naik pesawat, akan lebih murah dari itu, tapi demi ketemu gw, gak apa2. Gw bilang ke dia, gak apa2 kalau dia gak bisa ketemu gw, santai aja, gw gak akan marah, dan gak punya alasan marah, karena gw juga sering gitu, janji mau ketemu tapi nanti gw batalin karena 1 dan lain hal. Jadi menurut gw itu biasa banget, lagi pula dalam hati gw, bagus gak usah ketemu, gw lagi males banget keman-mana. Continue reading

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Melihara Ikan Hias Air Tawar di Aquarium

Senengnya punya temen baru. Miara Ikan dalam aquarium ini awalnya karena gw ngerasa kesepian banget, apalagi kalau udah di dalam kamar kosan, gak ada temen selain temen di dunia maya. Kalau gak internetan, palingan nonton film, ngebosenin kan? Nah gw mulai berfikir rasanya seru kalau gw punya hewan peliharaan. Kucing? hewan yang 1 ini banyak dijadikan hewan peliharaan, bahkan ada yang rela beliin shampoo 30 ribu buat nyampoin tuh kucing, kalau gw mah… mending beli shampoo gw sendiri, bahkan banyak makanan kucing lebih mahal dari makanan manusia. Itu kan selera, sah-sah aja, kalau ada willingness to pay-nya sih gak masalah, yang penting seneng. Cuma buat gw masalahnya adalah gw takut sama kucing, nyentuh aja gak berani deh, bisa-bisa bulu kuduk gw berdiri, apalagi kalau ngeliat anak kucing, berasa nyawa gw tinggal separoh. Gw bisa ketakutan setengah mati kalau ada anak kucing deket gw, soalnya anak kucing itu mengeongnya nyeremin, belum lagi suka ngikutin, terus badannya yang lemot bikin gw jijay. Terus piara hewan apa dong? Kelinci??? sama aja kaya kucing, bulu dan badannya yang lembek bikin gw ilfeel alias ilang feeling, alias mati rasa. Gw tuh hampir semua jenis hewan emang gak berani pegang. Nah jadi gw berfikir HEWAN APA YANG BISA GW PELIHARA TANPA GW SENTUH??? IKAN, thats good idea….hehehe.

Wal hasil gw liat sisa duit gw dan mulai berburu ikan, aquarium, tanaman air, pasir, aerator dan filter. Kebetulan gw dapet paket ikan murah (tanpa lampu, aerator dan filter). Gw beli di deket kapus IPB, ada berbagai macam paket, tapi yang gw pilih paket 3 terdiri dari ; Continue reading

Categories: Uncategorized | Leave a comment

SMOOTHING BIKIN SINTING

Kepengen punya rambut lurus merupakan idaman gw dari dulu. Bukan karena kebanyakan cowok suka pada wanita berambut lurus tapi karena aku sebagai manusia yg kurang bersyukur. Dikasih rambut ikal spiral yg sekarang lagi trend dikalangan wanita, gw malah mau dibikin lurus, padahal cewek-cewek di luar sana yang rambutnya lurus pada pergi ke salon guna punya rambut keriting spiral. Selama keinginan gw belom terpenuhi maka setiap detiknya,menitnya, jamnya akan selalu kepikiran untuk ngelurusin rambut. Tapi apa mau dikata, duit kagak punya jadi gimana bisa smoothing rambut biar rambut gw lurus??? Seorang teman dekat menyarankan gw untuk di catok dulu aja, untuk melihat hasilnya apakah bagus kalau rambut gw lurus. Gw pun berbekal duit 2o ribuan lecek yang nemu di pinggir kali akhirnya pergi ke salon di depan BNI kampus IPB darmaga. Hampir 30 menit gw di salon, pertama kalinya di catok… wiuuuhhh panas ya ciiin.

“ Ini rambut di rawat dong, kering banget.” Kata mas-mas sedikit melambai.

 “Pake apa ya untuk ngatasin rambut kering? Conditioner?” tanya ku.

 “Bukan dong… di hair mask minimum 2 kali sebulan”

 “OOhhhhh…” padahal gw gak tau apaan tuh hair mask? Masa rambut di maskerin sih?

          Setelah setengah jam berlalu, hasilnya eng..ing…eng…. wiiiuuuhhh rambut gw lurus kaya jalan tol, gak berliuk-liuk lagi kaya jalan ke puncak. Seneng banget gw deh meski sempet kena mesin catoknya yg lumayan panas di kuping gw. Trus gw jalan di BTM (Bara Trade Mall) dengan penuh percaya diri, kalau batre tuh 100%, berkali-kali gw kibasin rambut gw, untung gak ketombean. Perasaan seluruh mata memandang, makin aja gw PD, gw kibasin lagi rambut gw dengan gerakan kepala setengah memutar tapi tiba-tiba

“Bletak” kepala gw kepentok tiang listrik di depan gw.

“aduuuuhhh sakiiiitttt, sial!! Kenapa lo gak bilang-bilang sih kalau berdiri di depan gw?” ujar gw dalem hati, tengsin setengah mati tapi gw nyengir aja nutupin rasa sakit. Benjol niy kepala.

catok           Gw pulang aja ke kosan. Setengah jam lagi gw ketemuan sama pacar, sambil nunggu akhirnya gw nyuci baju. Selesai ngejemur gw siap-siap ketemuan, ganti baju terus pas liat di kaca, oh my godness…. rambuuuuuuttttt gw, kenapa jadi brekele lagi?? Yaaaahhh kalau di catok ternyata Cuma bertahan sebentar. Dengan muka kisut, rambut awut-awutan gw ketemu sama pacar gw, tadinya mau bikin surprise dengan rambut lurus gw, yang ada malah bete pas doi bilang :

“Apa bedanya sama rambut kamu yang dulu? Biasa aja, sama aja”

         Setelah kejadian itu tekad gw makin bulet kaya telor ayam kalau gw harus nabung buat smoothing, smoothing aja pake nabung? Maklumlah, gw kan belom punya penghasilan. Sebulan kemudian gw punya duit buat smoothing, setelah survey ke beberapa salon, ternyata kisaran smoothing untuk rambut sepanjang gw dibandrol 250-400 ribu, akhirnya gw dapet salon murah di Depok hanya dengan 300 ribu gw bisa dapet paket smoothing plus warnain rambut. Kebetulan niy, gw juga pengen di cat rambut gw, mau warna kaya Ayu ting-ting, Bule Depok gitu deh warnanya. Akhirnya gw pikir gw batal smoothing, gw pengen di cat aja karena duit gw cuma ada 200 ribu.

 DI SALON*****

“Mba…aku yg kemarin dateng nanyain smoothing dan cat rambut, aku dikasih paket 300 ribu, smoothingnya 200 trus ngecatnya 100 ribu. Nah aku mau ngecat rambut aja, ngak jadi smoothingnya, soalnya uang aku cuma 200 ribu.” Ujarku to the point.

“Ya udah smoothing aja dulu, ntar baru di cat” kata owner salon

“cat aja deh, kalau di cat berarti 100 ribu kan?”tanyaku

“120 ribu, kemarin dikasih 100 kalau sekalian sama smoothing”

“Yaaaahhhh…100 aja deh” paksaku

“mending di smoothing dulu, ketauan hasilnya langsung lurus rambutnya, nanti baru cat, Atau sekalian aja di cat, ntar kurang uangnya pas hair mask”

“beneran bisa nanti bayarnya? Ya udah aku tinggalin HP nanti sore aku balik lagi bawa uangnya”

        Akhirnya gw di smoothing plus cat, katanya memakan waktu hampir 4 jam. Tahap pertama kepala gw dipoles sampe lepek sama cream putih yang baunya amit-amit, kaya amoniak, bauuuuuuu banget, percis bau “Veet” perontok bulu yg suka gw pake buat ngerontokin bulu *** (sensor). 15 menit gw nunggu sampai cream ini meresap di rambut gw, abis itu di bilas, enak juga disampoin. Trus rambut gw dikeringin pake hair dryer, abis itu di catok. Hummm di catok bikin gw ngeri, takut kuping gw kena catokan lagi. Berbekal pengalaman pahit itu, gw mohon sama mbak-nya :

“mba Eka… aku pernah di catok, trus kupingku kena, panas banget rasanya, jadi hati-hati ya mba catokinnya, aku takut niy soalnya”

“Tenang aja teh, gak bakal kena kok “ baru aja Eka bilang gitu, tiba-tiba :

“Pletak… “ gw dijitak catokan        “aduuuh” ujar gw spontan

“eehhh, maaf mba, sorry gak sengaja” ujar Eka

“he..eh… gak apa-apa” ujar gw, padahal lumayan niy rasanya. Dan sekali lagi.

“Pletak…”        “eehhh sorry lagi mba” ujar Eka minta maaf lagi.

“iya gak apa-apa, lebih hati-hati aja mba” kuping sih gak kena, tapi kepala gw bisa benjol niy.

Melewati step 1 Eka terkagum-kagum sama rambut gw, dia berujar ketemennya yg sesama pegawai salon

“Liat deh, si teteh rambutnya udah luruuuus banget, padahal baru step 1, trus sekarang rambutnya jadi lebih panjang, tadi pas dateng gak sepanjang ini rambutnya” ujar Eka, trus temennya menjawab :

“sama gw panjangan mana?”

“ya panjangan teteh ini, halus lagi rambutnya”

         Niy orang berdua ngemeng apa sih? Ya iyalah rambut jadi lurus dan halus kalau abis di catok tapi liat aja bentar lagi, rambut gw pasti kusut lagi. Saatnya step 2. Selesai di pakein cream dan di catok, langkah kedua adalah gw dipakein cream warna gak jelas ke kepala dan rambut gw. Rasa keingin tauan gw pun datang.

“mba ini step 2 ya? Ini cream apa yg dipolesin” tanyaku

“oh ini step 2 sekalian dikasih cream warna rambut” jawab Eka

“Whatttt??? Ini sekalian di warnain? Ibuuuuuu… kok aku gak ditanya dulu mau pake warna apa, kok langsung dipoles aja?” tanyaku beralih ke owner salon.

“mau coklat kan? Iya itu udah sekalian, tenang aja coklatnya gak keliatan kok, Cuma kelihatan kalau dibawah sinar matahari” jawab si Ibu singkat

“whattt?? Justru yang aku mau biarpun di dalam ruangan rambut aku tetep kelihatan berwarna, gak mau ah kalau yg Cuma kelihatan di bawah matahari, aku udah pernah dulu, gak bagus, kaya orang abis kejemur matahari, cancel aja ah, aku gak mau, aku gak suka” jawabku sambil uring-uringan.

“Oh mau kaya ayu ting-ting, ya udah ntar diterangin lagi warnanya” kata Ibu salon

         Gw sms mamah untuk dateng kesini nemenin gw, berasa ditipu mentah-mentah niy, paling gak mamah bisa bantuin gw ngomong, bisa nolongin gw. Gw rada takut juga kok disalon ini Cuma gw doank yg nyalon, dari tadi yg dateng cowok-cowok semua yang minta di pijet, dipejet di lantai atas, gak gabung sama salon. Tapi sms gw ke mamah batal terkirim karena pulsa gw abis. Siaaallll!!!

         Aku udah gak bisa nunjukin wajah seneng lagi, yang ada aku beteee banget. Ngapain bayar mahal Cuma buat warnain rambut yang keliatan warnanya Cuma kalau kena sinar matahari. Gw cemberut terus. Gw tambah cemberut pas kepala gw tutup sama kantong plastik item yg daur ulang itu. Gw buka aja plastiknya, gw taro di bawah, eh dipakein lagi, gw gak mau.

“Gak mau ah, ini kan kantong plastik item, gak bagus”

“Gak bagus kan untuk makanan, untuk rambut mah gak apa-apa, supaya warnanya menyerap” jawab si Ibu

         Tapi gak gini juga kaleeeee, salon-salon lain juga ditutupin tapi gak pake plastik item buat sampah, pake yang putih. Ahhh tambah bete deh. Setengah jam menunggu saatnya gw dibilas. Disampoin lamaaa banget sampe bener-bener bersih dari bahan kimia yg udah dipolisin itu. Trus rambut gw dibungkus handuk. Pas duduk di depan cermin, handukpun di buka, dan jreeeennnggg…wadaaooooww

 What??? Apaan niy? Kok rambut gw berwarna cuma pas poni doang, pas bagian atasnya doank, bagian bawahnya tetep item. Terussss gw harus jungkir balik sambil bilang WOW???

 “yaaahhh ibuuuu kok belang gini? Kenapa cuma diatasnya aja warna rambutnya? Adduuuuhkk kok jadi gini” ujarku kesel, karena hasilnya percis kuda poni yang rambutnya pirang di bagian poni tapi dipinggirannya tetep item. Nih liat deh !!! kepala gw jadi kaya orang botak.

“bagus kok,iya kan Eka? Bagus kan? tuh kan rambutnya sekarang lurus, tadi sebelum di smoothing belum lurus” ujar ibu sambil nyuruh gw dicatok lagi. Trus si ibu nge-hair dryer rambut gw. Itu hair dryer panas banget, beda waktu Eka nge-hair dryer rambut gw di step pertama. Kepala gw berasa di bakar.

“Jadi smoothingnya udah?”tanyaku heran melihat rambut gw masih kaya semula

“iya udah, tuh kan bagus kan rambutnya lurus” jawab ibu. Gimana gak lurus? Abis di hair dryer dengan panas maksimal (kayanya). Tapi gak beda sama rambut gw semula. Masa gini doank??

liat deh… pirang di atasnya doank kan??? masih juga bagusan rambut gw yang dulu sebelum di cat, niy dia :

 Keliatan kan bedanya. Sekarang malah jadi kaya gini rambut gw (foto di bawah ini)

kepala terlihat botak bagian depan (poni)

 “Catok Ka sekarang” ujar ibu menyuruh Eka mencatok gw

 Catok lagiiii??? Setelah semua selesai gw liat rambut gw di kaca. Asli jelek banget, tau gini gw cancel aja deh. Apa-apaan niy? Boro-boro kaya Ayu ting ting yang ada kaya Ayu sinting.

“Ahhh jelek banget, aku malu niy keluarnya, malu diliat orang-orang, masa warnanya cuma di atas di bagian poni doank, aduuuuhhhh aku malu niy”

“Gak usah malu, ini bagus, ini variasi baru, bagus kan Ka warnanya”lagi-lagi ibu nanya ke Eka, dan Eka ngangguk terpaksa.

“Gak usah di tutupin rambutnya, gak usah nanya ke orang-orang tentang rambut kamu, biar aja orang menilai sendiri, jangan lupa 3 hari lagi balik kesini lagi untuk hair mask, murah kok Cuma 35 ribu udah di catok” tambahnya lagi.

        Karena gak tahan ngeliat rambut gw yang jelek ini, gw gak betah berlama-lama disalon sialan ini, rambut gw jadi cacat. “Trus saya harus bayar berapa, jangan 300, kurangin ya?” tanyaku dengan cemberut.

“Ya saya kasih discount jadi 280 ribu aja, sekarang bayar 200 aja, nanti sisanya 80 ribu bayar pas hair mask ya.”

“Aku gak mau bayar segitu. Aku bayar 240 ribu aja” ujarku

“Ya udah gak apa-apa, 40 ribu aja buat ngecat rambutnya”

        Akhirnya gw pulang, untung gw pake jaket yg ada penutup kepalanya. Baru sampe depan rumah, Mamah juga mau keluar, ternyata mau nyusulin gw, trus gw masuk ke dalem sambil nangis.

“Kenapa?” tanya mamah “Baru aja mamah mau kesana nyusulin Sari, lho kok rambutnya jadi begitu? Kaya Trio Macan” lanjut mamah.

AAAAAAhhhhhhh… tangis gw makin meledak dibilang kaya Trio Macan. Gak lama ade gw dateng dari Kampus Biru.

“Teteh… kok kaya nenek-nenek yang abis semiran buat nutupin uban, kenapa gitu teh rambutnya?”

Aaaaaaahhhhhhh… rasanya mau digundulin aja niy rambut gw. Gw langsung sms-in temen-temen yg di Depok.

JANGAN PERNAH NYALON DI SALON YANG DISAMPING WALIKOTA DEPOK (SEBELUM WALIKOTA) NAMANYA SALON GUMAY, CABANGNYA DI SAWANGAN NAMANYA ESTY SALON. NIH KORBANNYA GW, SMOOTHING MALAH JADI SINTING

 

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Blog at WordPress.com.